Kerajaan Islam Pertama di Indonesia Ternyata Bukan Samudra Pasai

Sejarah perkembangan islam di Indonesia memang sangat menarik untuk kita pelajari, salah satu diantaranya adalah sejarah kerajaan islam pertama di Indonesia. Ketika saya membuat artikel ini, saya sempat bertanya-bertanya karena saya menemukan sebuah fakta baru yang sebelumnya tidak saya ketahui, mungkin sobat juga belum mengetahuinya.

Ya, ternyata kerajaan islam tertua di Indonesia bukanlah Samudra Pasai yang kebanyakan orang termasuk saya pribadi menyebutnya sebagai kerajaan islam tertua di Nusantara. Ternyata itu salah. Nah terus kerajaan apa dong yang menjadi kerajaan islam pertama di Nusantara ini?

Oke kita kupas tuntas dalam artikel ini 🙂

Sebelum itu, bagi sobat yang ingin belajar melalui internet dengan efektif, sobat gabung aja Ruangguru.com, disana sobat bisa menemukan berbagai materi pelajaran sekolah dan tentunya disertai dengan soal-soal beserta pembahasannya. Jadi jangan lupa cek link diatas 🙂

Kerajaan Islam Pertama di Indonesia

Kerajaan Islam Pertama di Indonesia
Kerajaan islam tertua di Indonesia ternyata disandang oleh kerajaan Perlak yang berlokasi di Aceh bagian timur. Kerajaan ini didirikan sekitar tahun 840 Masehi sampai tahun 1292 Masehi. Dalam buku-buku sejarah yang kita pelajari, disebutkan bahwa Samudra Pasai adalah kerajaan islam yang pertama di Indonesia, namun baru-baru ini muncul fakta lain yang mana lebih memperkuat bahwa kerajaan pertama adalah kerajaan Perlak itu sendiri.
Memang fakta ini masih simpang siur karena kurangnya bukti atau tidak kuatnya bukti yang ada, berbeda dengan kerajaan islam pertama di Jawa. Kerajaan islam di pulau jawa sudah disepakati oleh berbagai pihak yaitu kesultanan Demak.
Banyak yang beranggapan kalau kerajaan Perlak ini adalah kerajaan islam pertama di nusantara karena melihat dari tahun berdirinya yaitu sekitar tahun 840 Masehi, sedangkan Samudra Pasai sendiri menurut data berdiri pada 1267 dan akhirnya lenyap pada tahun 1521.
Raja pertama yang memimpin kerajaan Perlak adalah Sultan Alaidin Syed Maulana Abdul Aziz Syah yang merupakan putra dari pasangan Ali bin Muhammad bin Ja’far Shadiq dengan Makhdum Tansyuri. Sebelum beliau memang sudah ada pemimpin yang merupakan keturunan Meurah Perlak Syahir Nuwi atau Maharaja Pho He La.
Tahun 840 M, rombongan yang jumlahnya 100 orang datang ke Perlak untuk berdagang sekaligus menyebarkan agama Islam. Rombongan itu dipimpin oleh Nahkoda Khalifah. Karena islam merupakan agama yang damai, tidak butuh waktu lama untuk para rakyat sekitar menerima islam dan meninggalkan agama lama mereka. Selanjutnya salah satu anak buah dari rombongan tadi bernama Ali bin Muhammad bin Ja’far Shadiq menikah dengan adik dari Syahir Nuwi (pemimpin perlak sebelumnya) bernama Makhdum Tansyuri.
Dari perkawinan ini lahirlah Sultan pertama kerajaan perlak bernama Alaidin Syed Maulana Abdul Aziz Syah. Sultan Alaidin Syed kemudian mengubah nama ibukota Bandar Perlak menjadi Bandar Khalifah sebagai bentuk penghargaan terhapa pencapaian Nakhoda Khalifah. 
Beliau memegang aliran Islam Syiah dan mendapat dukungan kuat dari dinasti Fatimiah di Mesir.Beliau meninggal dan dimakamkan di Payo Meuligo, Perlak, Aceh Timur, begitu juga dengan istrinya, Putri Meurah Mahdum Khudawi.
Pada masa pemerintahan Sultan Alaiddin Syed Maulana Abbas Shah atau sultan ke-3 kerajaan perlak, aliran Islam Sunni mulai masuk dan setelah beliau wafat pada tahun 913 Masehi, terjadi perang saudara antara pengikut alirah Syiah dan Sunni yang mengakibatkan terjadinya kekosongan kursi kepemimpinan selama 2 tahun.
Peperangan tersebut akhirnya dimenangkan oleh aliran Syiah dan Sultan Alaiddin Syed Maulana Ali Mughat Shah naik tahta. Pada tahun 915 Masehi, terjadi perang saudara kembali, kali ini dimenangkan oleh pihak Sunni dan akhirnya tampuk kekuasaan dipilih dari golongan Sunni.
Pada tahun 956 Masehi, setelah wafatnya sultan ke-7, Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Malik Shah Johan Berdaulat, terjadi peperangan lagi selama kurun waktu 4 tahun dan pada akhirnya kedua pihak menemukan titik tengah yaitu dengan membagi kerajaan menjadi 2 bagian.
  1. Perlak pesisir (Syiah), dipimpin oleh Sultan Alaiddin Syed Maulana Shah (986-988)
  2. Perlak pedalaman (Sunni), dipimpin oleh Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Shah Johan Berdaulat (986-1023)
Akhirnya kedua kedua wilayah tersebut bersatu kembali setelah salah satu pemimpin yaitu Sultan Alaiddin Syed Maulana Shah (Syiah) meninggal dan juga karena adanya serangan dari kerajaan Sriwijaya. Kondisi itulah yang membuat keduanya bersatu kembali dan akhirnya Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Shah Johan Berdaulat diangkat sebagai Sultan kedelapan dan berjuang melawan kerajaan Sriwijaya hingga tahun 1006.
Sultan Perlak ke-17, Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Shah II Johan Berdaulat melakukan politik persahabatan dengan negara-negara tetangga yaitu dengan menikahkan 2 putrinya yaitu Putri Ratna Kumana dinikahkan dengan Sultan Muhammad Shah (Raja Malaka) dan Putri Ganggang dinikahkan dengan al-Malik al-Saleh (Kerajaan Samudra Pasai).
Kesultanan Perlak berakhir pada tahun 1292 ketika Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Aziz Johan Berdaulat meninggal dunia. Kemudian kerajaan Perlak bergabung dengan Samudra Pasai.
Nah itu dia sejarah kerajaan Perlak yang menjadi kerajaan islam pertama di Indonesia, semoga bermanfaat dan jangan lupa like dan share ke yang lain ya 🙂

Leave a Reply